Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, ada keindahan tersendiri dalam kembali ke cara lama menulis surat. Bagi komunitas Yahudi yang tersebar di seluruh dunia, tradisi pertemanan pena bukan sekadar nostalgia, melainkan jembatan hidup yang menghubungkan identitas, iman, dan rasa kebersamaan meski terpisah ribuan kilometer.
Akar Sejarah dalam Diaspora
Sejarah komunitas Yahudi memang tak bisa dilepaskan dari diaspora penyebaran umat Yahudi ke berbagai penjuru dunia sejak zaman Babel hingga kini
https://jewishpenpals.org/ Dalam kondisi terpisah dari tanah leluhur, surat-menyurat menjadi sarana vital untuk menjaga ikatan keluarga, komunitas, dan keyakinan. Surat-surat itu bukan hanya kabar, tapi juga pembawa nilai, doa, dan harapan.
Tradisi ini terus hidup hingga kini, bahkan dalam bentuk modern seperti pen pal programs (program pertemanan pena) yang difasilitasi oleh sinagoga, organisasi pemuda Yahudi, atau yayasan pendidikan global. Melalui program ini, anak-anak muda dari Israel bisa berteman pena dengan rekan seusianya di Amerika Latin, Eropa, atau Asia berbagi cerita tentang sekolah, budaya lokal, hingga perayaan Shabbat di tempat masing-masing
Nilai Spiritual dalam Setiap Coretan Tinta
Bagi banyak anggota komunitas Yahudi, menulis surat bukan hanya aktivitas sosial, tapi juga bentuk refleksi spiritual. Dalam tradisi Yahudi, kata-kata dianggap suci dibrah (firman) memiliki kekuatan mencipta. Maka, setiap surat yang ditulis dengan niat tulus dianggap sebagai bentuk chesed (kasih sayang) dan tikkun olam (memperbaiki dunia).
Surat-surat ini sering kali menyertakan kutipan dari Taurat, puisi Ibrani, atau doa sederhana untuk kesejahteraan sahabat pena. Dalam diam, tinta itu menjadi doa yang berjalan mengalir dari Yerusalem ke Buenos Aires, dari New York ke Singapura.
Persahabatan yang Mengatasi Perbedaan
Yang paling menarik, beberapa inisiatif pertemanan pena kini juga melibatkan dialog antariman. Program seperti “Letters Across Borders” menghubungkan remaja Yahudi dengan teman sebaya Muslim, Kristen, atau Buddhis—membangun saling pengertian melalui cerita pribadi, bukan stereotip. Di sinilah pertemanan pena menjadi alat perdamaian: pelan, personal, namun sangat kuat.
Menghidupkan Kembali Tradisi di Era Digital
Meski WhatsApp dan Instagram mendominasi, banyak komunitas Yahudi justru sengaja kembali ke surat fisik—karena memberi ruang untuk berpikir, merenung, dan menulis dengan hati. Anak-anak diajak membuat amplop hias, menggunakan stiker bertema Hanukkah, atau melampirkan daun dari pohon zaitun di halaman rumah mereka.
Dalam dunia yang serba cepat, pertemanan pena ala komunitas Yahudi mengajarkan kita satu hal: persahabatan sejati tak butuh kecepatan, tapi kedalaman. Dan kadang, secarik kertas yang dikirim dari ujung bumi bisa membawa kehangatan yang tak tergantikan.